Mendung bertamu dalam hati ini, dan tika yunda melayan elegi, keseorangan bermenung di dalam kamar, terpandang pula yunda pada sebuah sajak di belakang sekeping penanda buku. Di sini, yunda ingin mengongsi sajak tersebut. Lakaran perasaan yang cukup jelas lagi berkesan ditekap indah pada sajak tersebut melalui susunan kata yang bersifat memujuk lembut.
Senyum, hatiku, senyum
Gelak hatiku, gelak
Dukamu tuan, aduhai kulum,
Walaupun hatimu, rasakan retak
Benar mawar berkembang
Melur mengirai kelopak
Anak dara duduk berdendang
Tapi engkau, aduhai fakir,
dikenang orang sekalipun tidak
Kuketahui, tekukur sulang-menyulang
Murai berkicau melagukan cinta
Tapi engkau aduhai dagang
Umpamakan pungguk merayukan purnama
Sungguh matahari dirangkum segara
Purnama raya dilingkung bintang
Tetapi engkau, aduhai kelana,
Siapa mengusap hatimu bimbang?
Diam hatiku, diam
Cobakan ria, hatiku ria
Sedih tuan, cobalah pendam
Umpama di sekam, api menyala
Mengapakah rama-rama boleh bersenda
Alun boleh mencium pantai
Tetapi beta makhluk utama
Duka dan cinta menjadi selampai?
Senyap, hatiku senyap
Adakah boleh engkau merana
Sudahlah ini nasib yang tetap,
Engkau terima di pangkuan bonda.
-sajak "Senyum Hatiku Senyum" karya seorang penyair tersohor, Amir Hamzah.